Adsense Menu

Friday, January 11, 2013


LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
SISTEMATIKA TUMBUHAN CRYPTOGAMAE
Disusun guna memenuhi syarat untuk mengikuti responsi

 






Disusun oleh :

Kelompok 36
(Thallus)
Hevi Al Azizah Riani    (A420100166)
Nur Fitria Husnul. K      (A420100167)
Ahmad Sidiq                 (A420100168)
Novita Dwi Indriyani     (A420100170)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012




HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktik Kerja Lapangan ini telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing kegiatan praktikum Sistematika Tumbuhan Cryptogamae pada :
Hari                 :
Tanggal           :
Nilai                :





Surakarta,   Desember 2012
Pembimbing PKL


Aditya Noor Cahya. P




KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan Sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Pada kesempatan kali ini, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.        ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat, anugerah serta kesempatan bernafas, dan terus mencoba untuk berkarya guna menjadi seseorang yang lebih baik bagi diri, keluarga serta orang lain, sebagai salah satu cermin ungkapan syukur kami atas segala kehidupan yang telah Kau anugerahkan pada kami.
2.      Ibu Titik Suryani, ibu Siti Kartika Sari selaku dosen mata kuliah dan pembimbing praktikum Sistematika Tumbuhan Cryptogamae.
3.      Segenap Asisten Dosen Praktikum Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yang telah banyak membantu dan membimbing selama dan setelah kegiatan praktikum ini.
4.      Rekan-rekan baik yang satu kelompok ataupun dari kelompok lain dengan pemikiran, seran, dan referensi yang berguna dalam penyusunan laporan ini.
Dengan ini kami tidak lupa untuk mohon maaf atas segala kekurangan, kelemahan dan kesalahan yang melekat dalam isi laporan ini, seperti kata pepatah tiada gading yang takkan pernah retak. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun demi penyusunan laporan yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.


Surakarta,  Desember 2012


Praktikan



MOTTO

“ Rasa takut sebenarnya sangat erat kaitannya dengan upaya yang dilakukan oleh seseorang agar terhindar dari bahaya atau keadaan yang menyakitkan “
“Kreatifitas tidak selalu lahir dari ilmuwan besar namum bisa pula lahir dari seorang anak biasa.”
“Keraguan adalah kegagalan sebelum bertanding”
Kalau ingin sukses lupakan alasan, kalau mau alasan lupakan sukses
 “Kalau Tuhan menutup pintu, ditempat lain Dia membukakan jendela untuk kita”
 “Waktu adalah harta, maka kita harus mendapatkan hasil dari setiap detiknya”



BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Pembelajaran pendidikan biologi dimulai dari pemahaman materi kecil sampai pada tingkat yang lebih terperinci. Salah satunya dalam mata kuliah Sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Pada bab ini kita diperkenalkan bagaimana memberi nama atau tata nama dalam suatu tumbuhan pada struktur tertentu. Tentunya selain dibahas dibangku perkuliahan, materi tentang Sistematika Tumbuhan Cryptogamae dapat dipelajari melalui kegiatan praktikum. Dimana dalam kegiatan praktikum praktikan dapat lebih memahami sistematika yang lebih jelas yang tidak didapatkan diperkuliahan.
Dalam pemahaman tiap-tiap subbab dalam praktikum, mahasiswa diberikan modul yang berisi tentang tingkatan-tingkatan subbab yang lebih memudahkan dalam mempelajari. 3 bab yang berkaitan dalam pembuatan laporan ini adalah tentang

Algae, Bryophyta dan Pteridophyta. Sistem pembelajaran dalam pemahaman pada Divisio Algae ini dilakukan dengan Praktik Kerja lapangan pada 2 pantai didaerah Yogyakarta, yaitu pantai Kukup dan pantai Krakal. Sedangkan pada divisio yang lainnya mahasiswa mencari di sekitar kampus atau tempat-tempat tertentu. Mahasiswa mencari species dari masing-masing divisio untuk diidentifikasi agar mahasiswa lebih memahami karakteristik species dari divisio-divisio tersebut di lingkungan yang tidak didapatkan selama berada di laboratorium.

B.  TUJUAN
1.      Bagaimana karakteristik dari species Divisio Algae yang didapatkan di Pantai Kukup dan Pantai Krakal, Yogyakarta ?
2.      Bagaimana karakteristik dari species Divisio Bryophyta dan Divisio Pteridhopyta yang didapatkan?


C.  MANFAAT
1.      Membantu dalam pemahaman mahasiswa tentang karakteristik species yang telah didapatkan.
2.      Membentuk  kerjasama yang erat dalam pencarian dan identifikasi.



  


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari penelusuran, penyimpanan contoh, pemerian, pengenalan (identifikasi), pengelompokan (klasifikasi), dan penamaan tumbuhan. Ilmu ini merupakan cabang dari taksonomi. Taksonomi tumbuhan (juga hewan) sering kali dikacaukan dengan sistematika tumbuhan dan klasifikasi tumbuhan. Klasifikasi tumbuhan adalah bagian dari taksonomi tumbuhan. Sistematika tumbuhan adalah ilmu yang berkaitan sangat erat dengan taksonomi tumbuhan. Namun demikian, sistematika tumbuhan lebih banyak mempelajari hubungan tumbuhan dengan proses evolusinya. Dalam sistematika bantuan ilmu seperti filogeni dan kladistika banyak berperan. Di sisi lain, taksonomi tumbuhan lebih banyak mempelajari aspek penanganan sampel-sampel (spesimen) tumbuhan dan pengelompokan (klasifikasi) berdasarkan contoh-contoh ini. Ilmu taksonomi tumbuhan mengalami banyak perubahan cepat semenjak digunakannya berbagai teknik biologi molekular dalam berbagai kajiannya. Pengelompokan spesies ke dalam berbagai takson sering kali berubah-ubah tergantung dari sistem klasifikasinya.
A.      ALGAE
Dalam dunia tumbuhan ganggang termasuk kedalam dunia tallopyta (tumbuhan talus), karena belum mempunyai akar, batang dan daun secara jelas. Tumbuhan ganggang ada yang bersel tunggal dan juga ada yang bersel banyak dengan bentuk serupa benang atau lembaran. Tubuh ganggang terdapat zat warna (pigmen), yaitu : Fikosianin untuk warna biru, klorofil menghasilkan warna hijau, fikosantin menghasilkan warna perang/ coklat, fikoeritrin menghasilkan warna merah, karoten menghasilkan warna keemasan, xantofil menghasilkan warna kuning. Ganggang bersifat autotrof (dapat menyusun makanannya sendiri). Hampir semua ganggang bersifat eukaryotik. Habitat hidupnya di air tawar, laut dan tempat-tempat yang lembab. Ganggang terbagi menjadi beberapa kelas :
1.    Cyanophyta    (ganggang biru), masih prokaryotik.
2.    Chlorophyta   (ganggang hijau)
3.    Chrysophyta   (ganggang keemasan)
4.    Phaeophyta    (ganggang coklat/ perang)
5.    Rhodophyta    (ganggang merah)
Ganggang merah (Rhodophyceae) adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga ini pada umumnya bersel banyak (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran. Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan usus.  Terdapat 3000 spesies alga merah (divisi Rhodophyta) ditemukan di laut. Warna merah dihasilkan oleh pigmen merah yang dominan yaitu fikoeritrin. Memiliki dinding sel selulosa dan sangat peka terhadap cahaya. Pigmen merah mampu menyerap cahaya biru dan ungu. Kebanyakan ditemui di air dalam dan berfilamen dengan ketebalan, lebar aturan filamen yang berbeda.
Ganggang hijau adalah kelompok alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Dalam taksonomi, semula semua alga yang tampak berwarna hijau dimasukkan sebagai salah satu kelas dalam filum/divisio Thallophyta, yaitu Chlorophyceae. Pengelompokan ini sekarang dianggap tidak valid karena ia tidak monofiletik, setelah diketahui bahwa tumbuhan merupakan perkembangan lanjutan dari anggota masa lalunya. Sebagai konsekuensi, alga hijau sekarang terdiri dari dua filum: Chlorophyta dan Charophyta, yang masing-masing monofiletik. Anggota alga hijau ada yang bersel tunggal dan ada pula yang bersel banyak, berwujud berkas, lembaran, atau membentuk koloni. Spesies alga hijau yang bersel tunggal ada yang dapat berpindah tempat, tetapi ada pula yang menetap. Sel-sel alga hijau bersifat eukariotik (materi inti dibungkus oleh membran inti). Pigmen klorofil terdapat dalam jumlah terbanyak sehingga alga ini berwarna hijau, pigmen lain yang dimiliki adalah karotena dan xantofil. Komposisi ini juga dimiliki oleh sel-sel tumbuhan modern. Klorofil dalam pigmen lain terdapat dalam kloroplas yang bentuknya bermacam-macam antara lain mangkuk, gelang, pita spiral, jala dan bintang. Di dalam kloroplas terdapat butiran padat yang disebut pirenoid yang berfungsi untuk pembentukan tepung. Alga hijau merupakan golongan terbesar di antara alga dan kebanyakan hidup di air tawar. Sebagian lagi hidup di darat, di tempat yang lembap, di atas batang pohon, dan di laut Widhiastuti (2006).
B.       BRYOPHYTA
Tjitrosoepomo (2010), menyatakan bahwa tumbuhan lumut merupakan sekumpulan tumbuhan kecil yang termasuk dalam Bryophytina (dari bahasa Yunani bryum, "lumut"). Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid (harafiah: "serupa akar"). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya.

C.      PTERYDOPHYTA
Steenis (2006), menyatakan bahwa tumbuhan paku (atau paku-pakuan) adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati (Tracheophyta, memiliki pembuluh kayu dan pembuluh tapis) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksi seksualnya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini mempertahankan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi. Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000, dengan perkiraan 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah yang lembab. Paku-pakuan cenderung ditemukan pada kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang lembab, tebing perbukitan, merayap pada batang pohon atau batuan, di dalam kolam/danau, daerah sekitar kawah vulkanik, serta sela-sela bangunan yang tidak terawat. Meskipun demikian, ketersediaan air yang mencukupi pada rentang waktu tertentu diperlukan karena salah satu tahap hidupnya tergantung pada keberadaan air, yaitu sebagai media bergeraknya sel sperma menuju sel telur.


BAB III
METODE PELAKSANAAN
A.      WAKTU DAN PELAKSANAAN
1.         PKL di Pantai
Waktu             :    Minggu, 9 Desember 2012.
Pelaksanaan    :
                        06.00   :    Mahasiswa berkumpul di Hall Masjid UMS.
                        06.30   :    Perjalanan menuju Pantai Kukup, Yogyakarta.
                        09.00   :    Tiba di Pantai Kukup dan Melakukan pencarian species yang sudah ditentukan.
                        11.00   :    ISOMA (Istirahat, Solat, Makan).
                        13.00   :    Perjalanan di Pantai Krakal dan melakukan kegiatan pencarian serta mulai mengidentifikasi species yang telah di temukan.
                        16.00   :    Perjalanan pulang ke UMS.
                               16.30   :    Sejenak di pusat oleh-oleh.
                               17.30   :    Melanjutkan perjalanan pulang.
                               19.30   :    Tiba di UMS.
2.      PKL Mandiri
Waktu              :    10 – 19 Desember 2012
Pelaksanaan     :    Di lingkungan sekitar.

B.       PELAKSANAAN PKL
1.      Alat
a.       Botol jem                      (2 Buah)
b.      Botol aqua                    (2 Buah)
c.       Sarung Tangan              (4 Pasang)
d.      Alat tulis                       (Seperlunya)
e.       Lembar Pengamatan     (Seperlunya)
f.       Gambar Species yang akan dicari
g.      Buku determinasi          (1 Buah)
2.      Bahan
a.       Algae
1)      Gracilaria tikvahiae
2)      Ulva sp.
b.      Bryophyta
Riccia fluitans
c.       Pteridophyta
1)      Davallia tyermannii
2)      Pteris vitata
3.      Cara Kerja
a.       PKL di Pantai
1)      Mencari preparat algae yang terdapat di pantai krakal.
2)      Mendokumentasikan tiep spesies yang ditemukan di pantai krakal.
3)      Mengamati ciri-ciri morfologi dan habitat dari setiap spesies yang ditemukan.
4)      Mengklasifikasikan dan mendiskripsikan setiap spesies yang ditenukan.
5)      Menyimpan spesies-spesies algae yang ditemukan di dalam botol jeem
6)      Mengawetkan algae yang ditemukan  
b.      PKL Mandiri
1)      Mencari lokasi di sekitar kampus yang terdapat spesies dari bryophyta dan pteridhophyta.
2)      Mendokumentasikan tiap spesies yang ditemukan.
3)       Mengamati ciri-ciri morfologi dan habitat dari setiap spesies yang ditemukan.
4)      Mengklasifikasikan dan mendiskripsikan setiap spesies yang ditemukan.
5)      Membuat herbarium untuk species dari Diviso Pteridophyta







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
1.      ALGAE
a.       Nama Daerah   :    Alga merah (Rumput laut)
Nama Ilmiah    :    Gracilaria tikvvahiae
Gambar            :

 




Klasifikasi        :
Kingdom    :    Plantae
Divisi         :    Thallophyta
Sub divisi   :    Algae
Classis        :    Rhodophyceae
Sub classis  :    Florideae
Ordo          :    Nemastomales
Familia       :    Sphaerococcaceae
Genus         :    Gracilaria
Species       :    Gracilaria tikvahiae
Deskripsi          :
Gracilaria tikvahiae merupakan rumput laut yang termasuk dalam kelas alga merah (Rhodophyceae). Alga ini menghasilkan metabolit primer senyawa hidrokoloid yang disebut agar. Mempunyai bentuk thallus silindris atau gepeng, namun pada Gracilaria  tikvahiae talusnya berbentuk silindris dengan percabangan dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun. Permukaan talusnya halus dan talus berwarna coklat kemerah-merahan. Diameter talus berkisar antara 0,5 – 2 mm. Panjang dapat mencapai 30 cm atau lebih. Alga ini menempel pada substrat yaitu pada rataan terumbu dan terkikis kapur (pada batu kapur). Struktur organnya terdiri dari thallus, rhizoid, dan substrat.
Gracilaria tikvahiae mampu menghasilkan spora (tetraspora dan karpospora) untuk reproduksinya. Habitatnya di air laut (pantai). Pertumbuhannya lebih baik di tempat dangkal daripada tempat dalam. Kromatofora berbentuk cakram,  mengandung klorofil-a dan karetonoid, tetapi warna itu tertutupi oleh fikoeritrin. Alga ini terkenal sebagai penghasil agar-agar.

b.      Nama Daerah   :    Ganggang Hijau (Selada laut)
Nama Ilmiah    :    Ulva sp
Gambar            :



Klasifikasi        :
Kingdom    :    Plantae
Divisi         :    Thallophyta
Sub divisi   :    Algae
Classis        :    Chlorophyceae
Ordo          :    Ulotrichales
Familia       :    Ulvaceae
Genus         :    Ulva
Species       :    Ulva sp.
Deskripsi          :
Ulva sp. termasuk ganggang hijau. Talusnya berwarna hijau, karena mengandung klorofil-a dan klorofil-b serta karetenoid, hasil asimilasi berupa tepung dan lemak. Talusnya berbentuk seperti lembaran daun, menyerupai daun selada. Habitatnya adalah dilaut dan menempel pada batu karang yang terletak diperairan pantai, kira-kira 0-10 meter dari tepi pantai. Struktur organnya terdiri dari rhizoid, klorofil, dan thallus. Merupakan alga yang berbentuk heterothalik, berkembangbiak secara aseksual dengan oospora berflagel empat yang terbentuk pada sel-sel vegetatif, sedangkan secara aseksual dengan peleburan sel-sel kelamin. Ulva sp. merupakan ganggang hijau yang sel-selnya selalu mempunyai satu inti dan kloroplas. Talusnya terdiri dari dua lapis sel yang membentuk struktur seperti parenkim.


2.      BRYOPHYTA
a.       Nama Daerah       :    Lumut Hati
Nama Ilmiah         :    Riccia fluitans
b.      

Gambar                 :




c.       Klasifikasi            :
Kingdom    :    Plantae
Divisi         :    Bryophyta
Classis        :    Hepaticae
Ordo          :    Marchantiales
Familia       :    Ricciaceae
Genus         :    Riccia
Species       :    Riccia fluitans

d.      Deskripsi              :
Talus pada Riccia fluitans berbentuk seperti pita, kurang lebih 2 cm lebarnya, agak tebal, berdaging, bercabang-cabang menggarpu, dan mempunyai suatu rusuk tengah yang tidak begitu menonjol. Thallus berwarna hijau, karena mengandung klorofil. Pada sisi bawah terdapat sisik-sisik perut dan rhizoid-rhizoid yang bersifat fototrop negative. Permukaan atas talus mempuyai lapisan kutikula sehingga hampir mungkin dilalui air. Sisa-sisa jaringan-jaringan talus berupa sel-sel yang tidak mengandung klorofil dan berguna sebagai tempat penimbunan zat makanan cadangan. Habitatnya ditempat basah atau lembab dan terlindungi dari cahaya matahari. Menempel atau substratnya pada tanah atau bebatuan. Reproduksi secara vegetatif dan generatif. Reproduksi secara vegetatif berupa cabang adventif, umbi atau gemma, organ reproduksi jantan berupa antheridia dan betina berupa archegonia. Struktur organ terdiri dari gametofit berupa thallus dan rhizoid, serta sporofit terdiri dari archegonium, archegoniofor, antheridium, dan antheridiofor.
3.      PTERIDOPHYTA
a.       Nama Daerah     :    Paku sumur
Nama Ilmiah      :    Davallia tyermannii
b.      Kunci Determinasi :
1a, 17b, 18b, 19b, 22b, 23b, 24b, 25b, 26b ..........................................Familia Polypodiaceae
1b, 5b, 10b, 13b, 15b ……Genus Davallia
Species Davallia tyermannii
c.       

Gambar     :

d.      Klasifikasi :
Kingdom           :      Plantae
Divisi                 :      Pteridophyta
Classis               :      Filicinae
Sub classis         :      Leptosporangiatae
Ordo                  :      Filicales
Familia              :      Polypodiaceae
Sub familia        :      Davalliaceae
Genus                :      Davallia
Species              :      Davallia tyermannii

Deskripsi   :
Davallia tyermannii memiliki perawakan herba, tumbuhnya merumpun tetapi ukurannya kecil. Daun berbentuk segitiga, menyirip rangkap, tangkai panjangnya 15 – 60 cm, anak daun bulat telur memanjang, beringgit, bergerigi dengan urat-urat yang bebas. Helaian daun berbentuk segitiga dan tepi yang bergerigi serta daun yang kaku. Daun berwarna hijau sampai hijau tua. Batangnya berbentuk rimpang. Tangkai atau batangnya berwarna coklat kehitaman. Rimpangnya merayap dan memperlihatkan batang yang nyata. Paku ini dapat tumbuh pada tanah-tanah cadas, karang, atau batu-batu. Banyak dijumpai pada batang jenis palem. Umumnya menumpang pada tumbuhan lain. Struktur organnya terdiri dari sorus, folium, caulis, radix, dan daun muda. Reproduksi secara sporofit dengan menghasilkan spora dan gametofit dengan menghasilkan sel gamet. Pada tumbuhan paku, sporofit berukuran lebih besar dan generasi hidupnya lebih lama dibandingkan generasi gametofit. Sorusnya berbentuk bulat atau memanjang, terdapat disisi bawah daun, sepanjang tepi atau dekat dengan tepi daunnya. Tumbuhan ini merupakan paku epifit pada pohon atau batuan.
  
Nama Daerah     :    Paku tanah
Nama Ilmiah      :    Pteris vitata
Gambar              :


Kunci Determinasi  :
1a, 17b, 18b, 19b, 22b, 23b, 2b, 25b, 26b ……………….......................... Familia Polypodiaceae
1b, 5b, 10b, 13a, 14b …………Genus Pteris
Species Pteris vitata

Klasifikasi   :
Kingdom      :      Plantae
Divisi            :      Pteridophyta
Classis          :      Filicinae
Sub classis    :      Leptosporangiatae
Ordo             :      Filicales
Familia          :      Polypodiaceae
Sub familia   :      Pteridaceae
Genus           :      Pteris
Species         :      Pteris vitata

Deskripsi                           :
Pteris vitata termasuk paku tanah. Daunnya sporofit (daun fertil) yaitu daun yang berfungsi menghasilkan spora, sebagai organ fotosintesis. Daun muda menggulung dan akan membuka jika telah dewasa. Bentuk daunnya memanjang, tepinya rata, ujung daunnya setengah meruncing, daunnya berhadapan bersilang, teksturnya selaput berupa helaian, dan permukaan daunnya kasar. Daun berwarna hijau, karena mengandung klorofil. Batang berupa rimpang, karena pada umumnya arah tumbuhnya menjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak. Bentuk batang tumbuhan paku ini panjang dan ramping. Permukaannya kasar dan ditumbuhi rambut-rambut halus. Batang berwarna coklat sampai coklat kehitaman dan bercabang. Akar pada pangkal rimpang yang tegak dan bentuk akarnya tipis, kasar, serta akar berwarna coklat tua. Struktur organ terdiri dari akar, batang, daun, sorus, indisium, dan percabangan. Habitat hidup di tanah, tembok, dan tebing terjal. Kebanyakan menempel pada substrat berupa batu atau tebing pada tebin sungai, yang menyukai kelembapan. Rimpangnya menjalar pada permukaan batuan dan akarnya masuk ke celah-celah batu. Tumbuhan paku ini berkembangbiak dengan cara vegetative dan generative. Perkembangbiakan generative dimulai dengan pembentukan spora yang dihasilkan oleh sporangium. Jika spora tersebut jatuh di tempat yang sesuai, maka spora akan tumbuh dan berkembang menjadi protalus (protalium) atau gametofit. Spora berkecambah membentuk gametofit yang homotalus (berumah satu), di luar batas dinding spora.
B.       PEMBAHASAN
Klasifikasi merupakan cara memilah dengan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu berdasrkan kesamaan morfologi, anatomi, fisiologi, biokimia, dan hubungan kekerabatan. Tujuan dari klasifikasi yaitu : Mendeskripsikan ciri-ciri makhluk hidup untuk membedakan tiap-tiap jenis, agar mudah dikenal, Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri, Mengetahui hubungan kekerabatan antar makhluk hidup, Mempelajari evolusi makhluk hidup atas dasar kekerabatannya. Sedangkan manfaat dari klasifikasi itu sendiri adalah Untuk mempermudah dalam mempelajari organisme yang beraneka ragam dan untuk melihat hubungan kekerabatan antar makhluk hidup yang satu dengan yang lain. Dalam melakukan klasifikasi harus mengacu pada berbagai hal yang merupakan dasar-dasar klasifikasi yaitu : Berdasarkan Persamaan, Berdasarkan Perbedaan, Berdasarkan Manfaat, Berdasarkan Ciri Morfologi dan Anatomi, Berdasarkan Ciri Biokimia, Berdasarkan genetic.
Sistematika tumbuhan cryptogamae mempelajari berbagai tentang tumbuhan tingkat rendah. Mulai dari cri-cir morfologi, pengklasifikasiannya, serta manfaatnya bagi kehidupan. Didalam sistematika tumbuhan crypogamae terdapat 3 divisi yang dibahas didalamnya yaitu: divisi thallophyta, bryophyta dan pteridophyta. Divisi thallophyta meliputi tumbuhan yang tubuhnya berbentuk talus. Yang disebut talus yaitu tubuh tumbuhan yang belum dapat dibedakan antara akar, batang dan daun. Tubuh yang berupa talus itu mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang sangat besar, dari yang terdiri dari satu sel berbentuk  bulat hingga banyak sel dengan bentuk yang kadang-kadang mirip dengan kormus tumbuhan tingkat tinggi.
1.    Sub Divisi Algae
Algae atau tumbuhan ganggang merupakan tumbuhan talus yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati tempat yang lembab. Yang hidup di air ada yang bergerak aktif ada yang tidak. Jenis-jenis yang hidup bebas di air, terutama tumbuhan yang bersel tunggal dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun  plankton, tepatnya  fitoplankton. Walau tubuh ganggang menunjukkan keanekaragaman, tetapi semua selnya selalu jelas mempunyai inti dan plastid, dan di dalam plastid terdapat derivate klorofil yaitu klorofil-a atau klorofil-b atau kedua-duanya. Selain derivate klorofil terdapat pula zat warna lain , dan zat warna inilah yang justru kadang-kadang lebib memonjol dan menyebabkan kelompok-kelompok ganggang tertentu diberi nama sesuai dengan warna tadi. Zat warna tersebut berupa  fikosianin  (berwarna biru),  fikosantin  (berwarna pirang), fikoeritrin (berwarna merah). Selain itu juga sering ditemukan  santofil dan karotin.
Divisi algae dibagi menjadi 7 classis yaitu Flagellate, Diatimeae, Chlorophyceae, Conjugatae, Charophyceae, Phaeophyceae, Rhodophyceae. Sedangkan pada praktikum ini hanya ada 2 classis saja yang diamati yaitu Rhodophyceae dan Chlorophyceae.
Ganggang merah (Rhodophyceae) adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga ini pada umumnya bersel banyak (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran. Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan usus. Terdapat 3000 spesies alga merah (divisi Rhodophyta) ditemukan di laut. Warna merah dihasilkan oleh pigmen merah yang dominan yaitu fikoeritrin. Memiliki dinding sel selulosa dan sangat peka terhadap cahaya. Pigmen merah mampu menyerap cahaya biru dan ungu. Kebanyakan ditemui di air dalam dan berfilamen dengan ketebalan, lebar aturan filamen yang berbeda. Contohnya : Gigartina, Porphyra.
Pada classis chlorophyceae sel-selnya mempunyai kloroplas yang berwarna hijau, mengandung klorofil-a dan klorofil-b serta karotenoid. Pada kloroplas terdapat pirenoid, hasil asimilasi berupa tepung dan lemak. Perkembangbiakan terjadi secara aseksual dengan membentuk zoospore dan secara seksual dengan anisogami. Chlorophyceae terdiri atas sel-sel kecil yang berupa koloni berbentuk benang yang bercabang-cabang atau tidak, ada pula yang membentuk koloni yang menyerupai kormus tumbuhan tingkat tinggi. Biasanya hidup di air tawar, merupakan penyusun suatu plankton atau sebagai bentos.yang bersel besar biasanya hidup di air laut, terutama dekat pantai. Ada jenis-jenis chlorophyceae yang hidup pada tanah-tanah yang basah, bahkan ada di antaranya yang bertahan pada keadaan kering.
Dari praktek kerja lapangan yang telah kami lakukan kami mendapat tugas mencari 2 spesies algae di pantai krakal berupa 1 spesies dari chlorophyceae yaitu Ulva sp dan  1 spesies dari classis rhodophyceae  yaitu Gracilaria tikvahiae.
a.       Ulva sp.
Ulva sp. adalah alga yang berbentuk heterothalik, berkembang biak secara aseksual dengan oospora berflagel empat yang terbentuk pada sel-sel vegetatif. Ulva sp. tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Di dalam sel Ulva sp. terdapat plastida yaitu organel sel yang mengandung zat warna (pigmen). Plastida yang terdapat pada alga ini terutama kloroplas mengandung pigmen klorofil yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Sehingga alga ini bersifat autrotof karena dapat menyusun sendiri makanannya berupa zat organik dan zat-zat anorganik. Pada umumnya berbentuk seperti lembaran daun. Dinding selnya menghasilkan lendir.
Ulva sp. banyak dijumpai dipantai berdasar batu karang mati terutama pada rataan terumbu karang. Alga ini mudah terlepas dari substratnya oleh ombak yang kuat dan arus yang deras. Pada pasang tinggi dengan arus yang kuat alga ini dapat terlempar ke tepi pantai sehingga pada waktu surut banyak yang mengering.
Ulva sp. banyak dijumpai di pantai kupang dan pulau-pulau Indonesia bagian timur.
1)   Habitat : terdapat di dasar pantai berbatu/pasir.
2)   Morfologi : 
a)   Tallus pada tumbuhan ini menyerupai kipas, dimana bentuk tubuhnya pipih.
b)   Berbentuk lembaran yang tipis.
c)   Menempel pada batu dan tanah.
3)   Anatomi
a)   Terdapat kloroplas, dimana di dalam kloroplas terdapat perenoid yang berfungsi dalam pembentukan amilum.
b)   Mengandung zat warna hijau (Klorofil) sehingga berwarna hijau (Chlorophyta).
4)   Reproduksi
Reproduksi vegetative dengan cara fragmentasi, sel koloni menghasilkan zoospora, sedangkan generative dengan konjugasi sel gamet yang dilepaskan dari induknya menghasilkan zigospora.
5)   Ciri-ciri
a)    Mempunyai lembaran yang sering yang disebut selada air.
b)   Terdapat di daerah berpantai.
c)    Merupakan tumbuhan thallus.
d)   Berbentuk benang.
6)   Fisiologi
a)    Cara hidup dari ganggang ini yaitu dengan melakukan fotosintesis untuk menghasilkan protein dan amilum
b)   Menghasilkan O2 dari fotosintesis.
7)   Peranan : penghasil O2 yg diperlukan oleh hewan laut.

b.       Gracilaria tikvahiae
Gracilaria tikvahiae adalah spesies yang sangat oportunistik umum di muara dan teluk, terutama di mana pelepasan nutrisi, menyebabkan baik musiman atau sepanjang tahun eutrofikasi. Morfologi sangat bervariasi, dengan warna mulai dari hijau gelap ke warna merah dan coklat, dengan cabang-cabang luar yang dapat berupa agak pipih atau bentuk silinder. Hal ini dapat ditemukan di dilindungi, teluk diam, serta di habitat pantai energi tinggi. Spesies ini tumbuh bebas atau menempel pada batu atau substrat , dan dapat mencapai ketinggian 30 cm.
Gracilaria tikvahiae tumbuh sampai kedalaman sekitar 10 m, tetapi paling sering terjadi pada kedalaman kurang dari 1 m. Gracilaria tikvahiae dapat tumbuh secara vegetatif selama waktu yang tidak terbatas waktu dan telah terbukti memiliki tingkat pertumbuhan tinggi di bawah non-membatasi cahaya dan nutrisi kondisi. Produktivitas spesies ini bisa setinggi apapun tanaman terestrial di bumi. Akibatnya, hal itu telah menjadi fokus dari beberapa penelitian menjadi nilai komersial, terutama sebagai penghasil hydrocolloids seperti agar-agar dan karaginan. Gracilaria tikvahiae berlimpah sepanjang jangkauan. Hal ini dapat menjadi sangat dominan di daerah eutrofikasi yang tinggi.
Optimum pertumbuhan Gracilaria tikvahiae terjadi antara 24-30°C. Hal ini dapat bertahan hidup, tetapi tidak tumbuh pada suhu di bawah 12°C. Suhu, lebih dari intensitas cahaya, adalah faktor penting yang mempengaruhi variasi musiman dalam jumlah protein, karbohidrat, dan R-Phycoerythrin : Klorofil rasio (rasio photopigments merah ke hijau photopigment primer) di Gracilaria tikvahiae. Selama nutrisi tidak membatasi, protein dan karbohidrat tingkat cenderung menunjukkan hubungan terbalik untuk kedua temperatur dan cahaya, penurunan seiring dengan meningkatnya temperatur dan cahaya.
Sebagai spesies oportunistik, Gracilaria tikvahiae lebih mampu mentolerir kondisi eutrofik dari beberapa ganggang lainnya. Dalam kondisi eutrofik, itu terakumulasi tikar lajang yang padat yang bisa mencapai lebih dari 0,5 m dengan ketebalan dan account selama lebih dari 90% dari biomassa alga berdiri. Agregasi semacam ini sering menimbulkan sangat lingkungan mengurangi kaya amonia dan rendah oksigen Gracilaria tikvahiae mentolerir. hipoksia relatif baik, dan cenderung mengurangi tingkat respirasi seluler dalam rangka untuk mengimbangi kondisi lingkungan yang buruk.
Di bawah kondisi laboratorium, fotosintesis bersih dan pertumbuhan Gracilaria tikvahiae menurun ketika pH media kultur meningkat di atas 8,0
2.      Divisi Bryophyta
Bryophyta berasal dari bahasa yunani yang berarti “tumbuhan lumut “, pada umumnya lumut berwarna hijau, karena mempunyai sel–sel dengan plastid yang menghasilkan klorofil a dan b, dengan demikian lumut bersifat autotrof. Tubuh lumut dapat dibedakan antara sporofit dan gametofitnya.
Ciri–Ciri Tubuh dari Bryophyta yaitu : Sel–sel penyusun tubuhnya telah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa. Pada semua tumbuhan yang tergolong lumut terdapat persamaan bentuk susunan gametangiumnya (anteredium maupun arkegonium) terutama susunan arkegoniumnya, mempunyai susunan yang khas yang sering kita jumpai pada tumbuhan paku (pteridophyta).
Batang dan daun pada tumbuhan lumut yang tegak memiliki susunan yang berbeda–beda, jika batangnya dilihat secara melintang tampak bagian–bagian sebagai berikut :
a.  Selapis sel kulit, beberapa sel diantaranya memanjang membentuk rizoid– rizoid epidermis.
b. Lapisan kulit dalam yang tersusun atas beberapa lapisan sel dinamakan korteks.
c.  Silinder pusat terdiri dari sel–sel parenkimatik yang memanjang dan berguna untuk mengangkut air dan garam–garam mineral (makanan). Jadi pada tumbuhan lumut belum terdapat floem maupun xylem.
Daun lumut umumnya setebal satu lapis sel, kecuali ibu tulang daun, lebih dari satu lapis sel. Sel–sel daun kecil,  sempit panjang dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala. Pada tumbuhan lumut hanya terdapat pertumbuhan memanjang dan tidak ada pertumbuhan membesar. Rizoid tampak seperti rambut/benang – benang, berfungsi sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap air serta garam–garam mineral (makanan). Struktur sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri atas:
a.       Vaginula , kaki yang diselubungi sisa dinding arkegonium.
b.      Seta atau tangki
c.       Apofisis, yaitu ujung seta yang agak melebar yang merupakan peralihan antara seta dan kotak spora
d.      Kaliptra atau tudung berasal dari dinding arkegonium sebelah atas menjadi tudung kotak spora
e.       Kolumela, jaringan yang tidak ikut mengambil bagian dalam pembentukan spora.

Riccia fluitans
Berbentuk talus seperti pita, kurang lebih 2 cm lebarnya, agak tebal, berdaging, bercabang-cabang menggarpu, dan mempunyai suatu rusuk tengah yang tidak begitu menonjol. Pada sisi bawah terdapat sisik-sisik perut dan rizoid-rizoid ysng bersifat fototrop negatif. Permukaan atas talus mempunyai lapisan kutikula sehingga hampir mungkin di lalui air. Sisa-sisa jaringan talus berupa sel-sel yang tidak mengandung klorofil dan berguna sebagai tempat penimbunan zat makanan cadangan. Gametangium didukung oleh suatu cabang talus yang tumbuh tegak. Riccia fluitans (lumut hati), mempunyai ciri-ciri :
a.    Talus seperti pita, kurang lebih 2 cm lebarnya, agak tebal, berdaging, bercabang-cabang menggarpu, dan mempunyai suatu rusuk tengah yang tidak begitu menonjol.
b.    Pada sisi bawah terdapat sisik-sisik perut dan rizoid-rizoid ysng bersifat fototrop negatif.
c.    Permukaan atas talus mempunyai lapisan kutikula sehingga hampir mungkin di lalui air.
d.   Sisa-sisa jaringan talus berupa sel-sel yang tidak mengandung klorofil dan berguna sebagai tempat penimbunan zat makanan cadangan.
e.    Gametangium didukung oleh suatu cabang talus yang tumbuh tegak.


3.      Divisi Pteridophyta
Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun. Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti warga divisi – divisi yang telah dibicarakan sebelumnya, alat perkembangbiakan tumbuhan paku yang utama adalah spora.
Warga tumbuhan paku amat heterogen, baik ditinjau dari segi habitus maupun cara hidupnya, lebih–lebih bila diperhitungkan pula jenis paku yang telah punah. Ada jenis–jenis paku yang sangat kecil dengan daun–daun yang kecil–kecil pula dengan struktur yang masih sederhana, ada pula yang besar dengan daun–daun yang mencapai ukuran panjang sampai 2m atau lebih dengan struktur yang rumit. Tumbuhan paku purba ada yang mencapai tinggi sampai 30m dengan garis tengah batang sampai 2m, dari segi cara hidupnya ada jenis–jenis paku yang hidup teresterial (paku tanah), ada paku epifit, dan ada paku air. Dimasa yang silam (jutaan tahun yang lalu), hutan–hutan di bumi kita terutama tersusun atas warga tumbuhan paku yang berupa pohon–pohon yang tinggi besar, dan kita kenal sisa–sisanya sekarang sebagai batu bara. Jenis–jenis yang sekarang ada jumlahnya relative kecil (lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah warga divisi lainnya) dapat dianggap sebagai relic (peninggalan) suatu kelompok tumbuhanyang dimasa jayanya pernah pula merajai bumi kita ini, yaitu dalam zaman paku (Palaeozoicum). Jenis–jenis yang sekarang masih ada sebagian sebagian besar bersifat higrofit. Mereka lebih menyukai tempat–tempat yang teduh dengan derajat kelembaban yang tinggi, paling besar mencapai ukuran tinggi beberapa meter saja, seperti terdapat pada marga Cyathea dan Alsophila, yang warganya masih berhabitus pohon dan kita kenal antara lain di Indonesia sebagai paku tiang.
Seperti Bryophytapada Pteridophytapun terdapat daur kehidupan yang menunjukkan adanya dua keturunan yang bergiliran. Gametofitnya mempunyai beberapa perbedaan dengan gametofit lumut, walaupun sama–sama terdiri atas sel-sel yang haploid. Gametofit pada tumbuhan paku dinamakan protalium, dan protalium ini hanya berumur beberapa minggu saja. Besarnya paling banyak hanya beberapa cm saja, bentuknya menyerupai thallus hepaticae. Umumnya protalium itu berbentuk jantung, berwarna hijau dan melekat pada substratnya dengan rhizoid-rhizoid. Padanya terdapat anteridium (biasanya pada bagian yang sempit) dan arkegonium (dekat dengan lekukan bagian yang melebar). Pembuahan hanya dapat berlangsung jika ada air. Baik anteridium maupun arkegonium terdapat pada sisi bawah protalium di antara rhizoid – rhizoidnya.
Pada kebanyakan tumbuhan paku (filicinae), sporanya mempunyai sifat–sifat yang sama, dan setelah berkecambah akan menghasilkan suatu protalium yang mempunyai anteridium maupun arkegonium. Jenis–jenis paku yang menghasilkan spora yang berumah satu dan sama besar itu dinamakan paku homospor atau isospor. Pada golongan tumbuhan paku lainnya   (selaginellales, Hydropteridales) protaliumnya tidak sama besar dan berumah dua. Pemisahan jenis kelamin telah terjadi pada pembentukan spora, yang selain berbeda jenis kelaminnya pun berbeda ukurannya.
Yang besar, mengandung banyak makanan cadangan dinamakan makrospora atau megaspora, dan terbentuk dalam makro atau megasporangium, dan pada waktu perkecambahan tumbuh menjadi protalium yang agak besar yang mempunyai arkegonium. Protalium ini dinamakan Makroprotalium atau protalium betina.
Yang kecil dinamakan mikrospora dan dihasilkan dalam microsporangium. Mikrospora akan tumbuh menjadi mikroprotalium atau protalium jantan. Padanya terdapat anteridium selain jenis–jenis paku homospor dan heterospor, ada pula jenis–jenis paku yang sporangiumnya menghasilkan spora yang sama besar, tetapi berbeda jenis kelaminnya. Tumbuhan paku dengan sifat demikian itu dianggap sebagai bentuk peralihan antara yang isospor dan yang heterospor
a.    Davallia tyermanii
Davallia tyermanii memiliki dedaunan yang indah mengkilap hijau gelap. Akar rhizomatous memiliki bulu putih yang menarik pada mereka yang tampak seperti kaki kelinci yang lembut itu, rimpang berbulu panjang minimal 2 .3 inci panjang. Kaki kelinci putih adalah ideal untuk menggantung atau tumbuh dalam pot tanah liat. Bagi tanaman saat penuh sesak Davallia tyermannii juga dapat tumbuh di terarium atau sebagai tanaman indoor pot, tempat itu di mana ia dapat menerima cahaya tidak langsung. Adapun ciri-ciri dari alga ini adalah :
1)   Reproduksi seksual dan aseksual.
2)   Mengandung khlorofil a dan b, beta, gamma karoten dan santhofil.
3)   Berwarna hijau
4)   Persediaan (cadangan) makanan berupa kanji dan lemak.
5)   Dalam dinding selnya terdapat selulosa, sylan dan mannan.
6)   Memiliki thilakoid
7)   Dalam plastiada terdapat pirenoid sebagai tempat penyimpanan produk hasil sintesis.
8)   Thallus satu sel, berbentuk pita, berupa membaran, tubulat, dan kantong atau bentuk lain.
a)      Ciri talus :
1.      Ada yang bersatu dan bersel banyak (koloni)
2.      Bentuk tubuh ada yang bulat, filament, lembaran, dan ada yang menyerupai tumbuahn tinggi, misalnya bryopsis,
3.      Kloroplasnya beraneka bentuk dan ukurannya, ada yang seperti mangkok, seperti busa, seperti jala, dan seperti bintang,
4.      Pada pirenoid yang terdapat pada kloroplas ganggang hijau motil dan pada sel reproduktif yang bergerak terdapat stigma (bintik mata merah).
5.      Pada sel yang dapat bergerak terdepat vakuola kontraktil didalam sitoplasmanya, vakuola ini berfungsi sebagai alat osmoregulasi.
6.      Inti ganggang ini memiliki membrane, sehingga bentuknya tetap, disebut eukarion.
7.      Pada ganggang hijau yang bergerak terdapat dua flagella yang sama panjang, macamnya adalah stikonematik, pantonematik, dan pantokronematik.
b)      Habitat
Habitat ganggang ini diair tawar, air laut, tanah–tanah yang basah, ada pula yang hidup di tempat–tempat kering.
c)      Cara hidup
Ganggang hiaju hidup secara autotrof.
d)     Reproduksi
Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospore, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Reproduksi aseksualnya berlangsung secara konjugasi. Hasil konjugasi berupa suatu zigospora, zigospora tidak mempunyai alat gerak. Sel tumbuhan dipisahkan oleh dinding sel yang transparan.
Dinding sel adalah struktur di luar membran plasma yang membatasi ruang bagi sel untuk membesar. Dinding sel mencegah kelebihan air yang masuk ke dalam sel. Dinding sel alga terbentuk dari glikoprotein, pektin, dan sakarida sederhana (gula).
a.       Umumnya Eukariotik, berinti satu atau banyak (Kanositik)
b.      Bersifat binthik atau planktonik.


b.    Pteris vitata
Paku ini merupakan satu marga dari Pteris biaurita dan Pteris ensiformis. Habitat dari tumbuhan ini tidak jauh dari tumbuhan paku yang lainnya, biasanya tumbuhan paku ini banyak ditemukan di daerah-daerah yang lembab. Adapun ciri-ciri dari tumbuhan paku ini memiliki perakaran serabut, dan perawakan dari tanaman paku ini adalah herba, akar berwarna coklat dan memiliki ciri pada saat masih muda kuncup daunnya menggulung dan ini merupakan ciri khusus dari tumbuhan paku dari marga ini.
Secara umum, Pteris merupakan paku tanah. Tumbuhan yang termasuk dalam kelompok ini adalah paku-paku yang hidup di tanah, tembok dan tebing terjal. Tumbuhan ini termasuk herba atau berkayu, akarnya merupakan akar serabut
a.    Habitat
Pteris vittata termasuk paku tanah yaitu paku-pakuan yang hidup di tanah, tembok, dan tebing terjal. Kebanyakan jenis paku ini banyak tumbuh pada batu-batu atau pada tebing sungai, yang menyukai kelembapan. Rimpangnya menjalar pada pemukaan batuan dan akar-akarnya masuk ke celah-celah batu. Tumbuh paku ini banyak ditemukan liar di bagian-bagian dari dunia, seperti Amerika tropis, Asia tropis, India, Negeri China, Jepang, Barat Indies, Afrika selatan, Australia Austria, Selandia Baru dan Eropa.
b.    Deskripsi Morfologi Pteris vittata
1)      Akar
Akar paku ini adalah serabut yang tidak bercabang atau monopodial. Terletak pada seluruh permukaan rimpang, bentuk akar tipis dan kasar berwarna coklat.
2)      Batang
Batang Pteris vittata berbentuk bulat beralur secara longitudinal, beruas-ruas panjang dan kaku, permukaan pada batangnya halus tetapi perlu diketahui bahwa batang paku-pakuan tidak selalu halus, tetapi kadang-kadang dihiasi dengan bentukan seperti rambut atau sisik berwarna hitam atau coklat, lapisan lilin dan sisa-sisa tangkai. Pada batangnya tidak di terdapat rambut, ukuran batangnya biasanya sekitar ±40 cm, dan diameternya adalah ±25cm. Ukuran batang pada paku-pakuan sangat bervariasi dari beberapa millimeter (mm) sampai beberapa centimeter (cm), warna batang Pteris vittata hijau kecoklatan. Dan bentuk percabangannya adalah percabangan menyirip.
3)      Daun
Jenis daun Pteris vittata adalah majemuk menyirip, tepi daunya halus atau tidak bergerigi, tepi daunnya rata. Terdapat ental,  pada kelompok paku-pakuan mempunyai bentuk yang khas yang berbeda dengan daun tumbuh-tumbuhan lainya, sehingga biasa disebut ental (frond). Bentuk daunya memanjang, berukuran ±3,5 cm, daun paku-pakuan sangat bervariasi ukurannya dari yang berukuran beberapa milimeter (mm) sampai berukuran centimeter (cm). Daun Pteris vittata tergolong anisofil yaitu daunya terdiri dari dua ukuran yaitu yang satu lebih besar dari yang lainnya.
Warna daun pada Pteris vittata adalah hijau tua, peruratan (vernasi) menyirip, ujung-ujungnya bergabung dengan urat lain sehingga memperlihatkan garis yang dekat dengan tepi. Tekstur daun adalah helaian atau seperti selaput (tekstur daun tumbuhan paku bervariasi seperti selaput atau helaian atau seperti selaput tebal atau kulit). Permukaan daunnya halus atau gundul. Tangkai daun berukuran ±28cm.
4)      Ciri-ciri khusus
Pteris vittata termasuk dimorfisme yaitu, antara sporofil dan tropofil dalam satu individu berbeda bentuk atau ukuranya. Daun tropofil adalah daun yang berfungsi untuk proses fotosintesis sedangkan daun sporofil merupakan penghasil spora.
c.       Sistem Reproduksi Pteris vittata
1)      Spora
Sporofil, Susunan sporofil pada sporofit bervariasi, mulai dari yang tidak berkelompok sampai yang berkelompok. Sporofil yang berkelompok ada yang tersusun antara lain longgar dan tidak longgar.
Kumpulan sporangium (sorus) berada pada bagian tepi bawah daun, sorus berwarna coklat dan terletak berjejer. Sporangium merupakan kapsul yang berbentuk kanta dwicembung. Dinding sporangium terdiri satu atau beberapa lapisan sel , kecuali pada bagian tepinya terdapat suatu lapisan sel berdinding tebal yang mengelilingi sebagian kapsul yang dinamakan anulus. Pada bagian ujung lingkaran terdapat satu kumpulan sel yang pipih yang dikenali sebagai stomium. Apabila sporangium masak sel stomium akan pecah dan membebaskan spora yang terdapat didalamnya. Sporangium pada Pteris vittata berbentuk seperti jantung atau agak bulat atau oval. Indisiumnya berbentuk menyerupai cangkir.
Sorus merupakan satu seperti yang ditemui pada Ophioglossum, atau berbentuk garis panjang seperti pada genus Pteris atau yang bulat seperti genus Phymatodes. Kedudukan dan susunan sorus amat penting karena ia akan menentukan genus dan spesis paku pakis.
Indusium adalah suatu lapisan pelindung untuk melindungi sporangium terutama yang masih muda. Ada sorus yang tidak dilindungi oleh indusium yang dikenali sebagai sorus yang telanjang. Sementara yang dilengkapi dengan indusium terdapat dua jenis. Jenis yang pertama dinamakan indusium sejati yang mana lapisan tisunya berupa penutup melengkok terdiri daripada dua ruangan dengan bahagian tengah berhubungan dan mengikatkannya kepada permukaan daun. Manakala lapisan pelindung yang hanya berupa pelebaran dari bahagian tepi daun yang bengkok dinamakan indusium palsu.
Reproduksi tumbuhan paku lebih rumit jika dibandingkan dengan tumbuhan berpembuluh lainnya. Proses reproduksi hanya akan terjadi jika cukup kandungan air di lingkungan hidupnya sampai proses reproduksi selesai. Akibatnya tumbuhan paku tidak akan bereproduksi jika kadar air di lingkungannya kurang.
Pteris merupakan pakis homospor yang mempunyai tipe gametofit yaitu tipe jantung, tipe gametofit ini yang paling umum. Protaliumnya berbentuk pipih, alat kelamin (gametangium) terletak pada permukaan ventral (bawah), arkegonium biasanya terletak didekat takik, anteridium umumnya terletak di antara rizoid. Tidak semua daun pada Pteris memiliki sorus (sori), daun paku yang memiliki sorus merupakan daun fertil yang disebut daun sporofil, jika daun sporofil (daun fertil) diletakkan di atas permukaan kertas polos, maka bentuk spora akan terlihat seperti serbuk bedak berwarna hitam, ciklat, kemerahan, kuning atau hijau tergantung jenis tumbuhan pakunya. Masing-masing spora akan tumbuh menjadi paku dewasa melalui proses yang kompleks, dan daun paku yang tidak memiliki sorus disebut daun steril .

2)      Gamet
Gametofit berukuran sangat kecil hanya setengah inchi dan dapat diamati dengan menggunakan alat pembesar seperti mikroskop. Gametofit memiliki dua set organ reproduksi, antheridium (jantan) dan archegonium (betina). Antheridium berisi sperma sedangkan archegonium berisi sel telur, masing-masing terletak di permukaan gametofitnya. Sperma akan bergerak kearah sel telur jika lingkungan sekitar dalam keadaan lembab.
d.      Manfaat Pteris vittata
Pteris vittata dimanfaatkan sebagai kemampuan ”hyperaccumulate” (menyerap sejumlah arsenic) yang besar dari lahan. Selain itu Pteris vittata sebagai bioremediation potensial. Pada umumnya tumbuhan paku tersebut digunakan sebagai tanaman hias yang ditanam dalam pot, yang biasanya orang menanam sebagai tanaman pembatas.

   
BAB V
  PENUTUP

A. KESIMPULAN
1.      Tumbuhan Cryptogamae dibagi menjadi 3 Divisi  yaitu Thallophyta, Bryophyta, dan Pteridophyta.
2.      Algae (ganggang) merupakan tumbuhan yang belum mempunyai akar, batang, dan daun yang sebenarnya.
3.      Spesies algae yang ditemukan di pantai krakal yaitu Gracilaria tikvahiae termasuk dalam classis Rhodophyceae dan species Ulva sp termasuk dalam classis Chlorophyceae.
4.      Bryophyta atau tumbuhan lumut merupakan tumbuhan yang tingkat perkembangnya lebih tinggi daripada Thallophyta.
5.      Spesies Bryophyta yang ditemukan disekitar kampus UMS yaitu Riccia fluitans yang termasuk dalam classis Hepaticae.
6.      Pteridophyta atau tumbuhan paku adalah tumbuhan yang berkembangbiak dengan spora, bukan dengan biji.
7.      Spesies Pteridophyta yang ditemukan di sekitar kampus UMS yaitu
Davallia tyermannii yang termasuk dalam classis Filicinae dan Pteris vitata yang juga termasuk dalam classis Filicinae.
8.      Dari praktikum kerja lapangan di Krakal, mencari dan mengamati 2 spesies Algae
9.      Dari praktikum kerja lapangan mandiri, mencari dan mengamati 1 spesies Bryophyta dan 2 spesies Pteridophyta.
B. SARAN
1.   Diharapkan peserta PKL lebih disiplin waktu , supaya kegiatan PKL dapat berjalan dengan lancar .
2.  Peserta PKL diharapkan dapat menguasai materi-materi terlebih dahulu , supaya mudah dalam mengamati preparat-preparatnya tersebut .
3.   Diharapkan PKL tahun berikutnya lebih baik , tertib , dan disiplin waktu agar PKL dapat berjalan dengan lancar .


DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 2012. Ganggang Merah. http://nuzulularifin.blogspot.com. Jakarta : Diakses tanggal 19 Desember 2012
Aryantha,Nyoman P.,dkk. 2012. http://www.sith.itb.ac.id/herbarium. Bandung : Diakses tanggal 19 desember 2012.
Steenis, C.G.G.J. Van. 2006. Flora : Untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta : Pradnya Paramita.
Tallei, Trina E, dkk. 2008. Kajian Beberapa Jenis Tumbuhan Paku sebagai Bioakumulator Arsen. Pasific Journal, Vol 1(3), September 2008, hlm 263-267. ISSN 1907-9672
Tim LIPI. 1980. Jenis Paku Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Widhiastuti, Retno, dkk. 2006. Struktur dan Komposisi Tumbuhan Paku-Pakuan di Kawasan Hutan Gunung Sinabung Kabupaten Karo. Jurnal Biologi Sumatera, Vol. B8 No.2, Juli 2006, hlm 38-41. ISSN 190-5537.
http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_tumbuhan

No comments:

Post a Comment



 

© Copyright by kadeudeuh | Template by BloggerTemplates | Blog Templates at Fifa World